Dalam perjalanan ke sana aku teringat dengan seorang cewek yang
namanya Judith juga. Lengkapnya Judith Monica. Sudah setahun ini kami
tidak pernah bertemu lagi, tapi masih sering menghubungi via telepon,
terakhir kali aku menghubungi dia waktu ulang tahunnya tanggal 29
September, dan kukirimi dia kado ulangtahun. Dia adalah orang yang
pernah begitu kusayangi. Dalam hatiku berharap semoga dia menjadi
isteriku. Wajahnya mirip artis Dina Lorenza, tinggi 170 cm, kulitnya
sawo matang. Pokoknya semua tentang dia ini oke punya lah. Ibunya orang
Jawa, sedangkan bapaknya dari Sulawesi selatan. Dia sendiri sejak lahir
sampai besar menetap di Jakarta bersama orangtuanya.
Dulunya kami bekerja di satu perusahaan, Judith ini accountingnya
kami di kantor, sedangkan aku bekerja diatas kapal. Setiap pulang dari
Jepang, sering kubawa oleh-oleh untuk dia. Tetapi salah satu point yang
sulit mempersatukan kami adalah soal agama. Terakhir yang kutahu tentang
Judith ini dia batal menikah dengan cowoknya yang namanya Adhi itu.
Handphone-ku berbunyi lagi, rupanya dari Rudy, mereka menyuruhku
masuk ke dalam kamar 310, disitu Rudy bersama dua orang ceweknya. Aku
disuruh langsung saja masuk ke kamar nanti begitu tiba di sana. Aku tiba
di sana pukul sembilan tiga puluh malam dan terus naik ke atas ke kamar
310. Seorang cewek membuka pintu buatku dan cewek itu hanya bercelana
dalam dan BH saja, dan aku langsung masuk. Rupanya Rudy sedang main
dengan salah seorang ceweknya itu, keduanya sama-sama telanjang dan lagi
seru-serunya berduel. Terdengar suaranya si cewek ini mendesah dan
mengerang kenikmatan, sementara Rudy mencium wajahnya dan lehernya. Aku
berpaling pada cewek yang satu lagi ini yang memandangku dengan senyuman
manis.
“Oom Errol ya..?” tegurnya sambil duduk di atas tempat tidur yang berada di sebelahnya.
Aku hanya mengangguk dan membalas senyumnya. Bodynya boleh juga nih cewek, hanya sedikit kurus dan imut-imut.
Aku hanya mengangguk dan membalas senyumnya. Bodynya boleh juga nih cewek, hanya sedikit kurus dan imut-imut.
“Namanya siapa sich..?” tanyaku.
“Namaku Lina, Oom buka aja bajunya.”
Lalu aku pun berdiri dan membuka bajuku, dan kemudian menghampirinya di atas ranjang dan menyentuh punggungnya, sementara Lina ini terus saja menonton ke sebelah. Si cewek yang lagi ‘dimakan’ Rudy rupanya mencapai puncak orgasmenya sambil menggoyang pinggulnya liar sekali, menjerit dan mendesah, dan kemudian Rudy pun keluar. Asyik juga sekali-sekali menonton orang bersenggama seperti ini.
Sementara keduanya masih tergeletak lemas dan nafas tersengal-sengal,
si Lina ini berpaling kepadaku dan aku pun mengerti maksudnya, dan kami
pun mulai bercumbu, saling meraba dan berciuman penuh nafsu. Kini
berbalik Ricky dan ceweknya itu yang menonton aku dan Lina main. Secara
kebetulan aku balik berpaling kepada Ricky dan ceweknya itu, dan betapa
kagetnya aku melihat siapa cewek yang bersama Ricky itu. Masih sempat
kulihat buah dadanya dan puting susunya sebelum cepat-cepat dia menarik
selimut menutupi badannya. Aku langsung jadi ‘down’ dan bangun berdiri,
dan menegur Ricky sambil memandang si cewek itu yang masih terbaring.
Dia pun nampaknya begitu kaget, untung saja Ricky tidak melihat
perubahan pada air wajahnya.
“Hi Ricky.., sorry aku langsung main tancap nich.” kataku, Ricky hanya tertawa saja padaku.
“Gimana Roll, oke punya?” tanya Ricky sambil melirik Lina yang masih terbaring di ranjang.
“Excellent..!” jawabku sambil berdiri di depannya tanpa sadar bahwa aku lagi telanjang bulat dan tegang.
“Gimana Roll, oke punya?” tanya Ricky sambil melirik Lina yang masih terbaring di ranjang.
“Excellent..!” jawabku sambil berdiri di depannya tanpa sadar bahwa aku lagi telanjang bulat dan tegang.
“Roll, kenalkan ini cewekku yang kubilang si Judith itu,” ucap Ricky sambil tangannya berbalik memegang kepalanya Judith.
Segera aku menghampirinya dan mengulurkan tanganku yang disambut oleh cewek itu.
Kami berjabat tangan, terasa dingin sekali tangannya, dan dia
menengok ke tempat lain, sementara aku menatapnya tajam. Untunglah Ricky
tidak sadar akan perubahan diantara aku dengan cewek ini. Lalu si
Judith ini bangun sambil melingkari tubuhnya dengan handuk, kemudian
berjalan ke kamar mandi diiringi oleh tatapan mataku, melihat betis
kakinya yang panjang indah itu yang dulu selalu kukagumi.
Tidak sadar aku menarik nafas, terus Rudy mempersilakan aku dan Lina
kembali melanjutkan permainan yang tertunda itu. Kami kemudian melakukan
foreplay sebelum acara yang utama itu. Kulihat sekilas ke sebelah,
Judith sudah balik dari kamar mandi dan memperhatikan aku dan Lina yang
sedang bertempur dengan seru, Lina mengimbangiku tanpa terlalu berisik
seperti Judith tadi. Lina mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar dan
kusodok lubang vaginanya dengan penuh semangat. Maklumlah, dua bulan di
laut tidak pernah menyentuh wanita sama sekali.
Sampai akhirnya kami berdua pun sama-sama keluar, aduuh.. nikmatnyaa…
Kuciumi buah dada yang penuh keringat itu dan bibir-bibirnya yang tipis
itu, kulitnya benar-benar bersih mulus dan akhirnya kami terbaring
membisu sambil terus berpelukan mesrah dan tertidur. Waktu itu sudah jam
dua belas tengah malam.
Ketika aku terbangun, rupanya Lina tidak tidur, dia malah asyik
memandangiku. Kulihat ke sebelah, Rudy dan Judith masih terlelap, hanya
selimutnya sudah tersingkap. Rudy tidur sambil memeluk Judith dan
keduanya masih telanjang bulat. Paha Judith yang mulus sexy itu
membuatku jadi terangsang kembali dan terus saja memandangnya dari jauh.
“Dia cantik ya..?” lalu Lina berbisik padaku, aku hanya mengangguk kepala.
“Cantik, sexy.. tapi milik banyak orang..” tambah Lina lagi.
“Dia temanmu kan..?”
“Kita satu fakultas dulu, dan sama-sama wisuda, setahu gua dia dulunya nggak suka main sama laki, tapi dia melayani tante-tante senang yang suka nyari mangsa di kampus.”
“Maksud kamu Judith itu lesbian..?”
“Yah gitu lah, tapi dia juga pacaran waktu itu, terakhir dulu gua dengar dia lama main ama orang cina dari Hongkong.”
“Cantik, sexy.. tapi milik banyak orang..” tambah Lina lagi.
“Dia temanmu kan..?”
“Kita satu fakultas dulu, dan sama-sama wisuda, setahu gua dia dulunya nggak suka main sama laki, tapi dia melayani tante-tante senang yang suka nyari mangsa di kampus.”
“Maksud kamu Judith itu lesbian..?”
“Yah gitu lah, tapi dia juga pacaran waktu itu, terakhir dulu gua dengar dia lama main ama orang cina dari Hongkong.”
“Bisa jadi dia pernah lesbong, soalnya liat tuh puting susunya udah
besar dan panjang lagi, kayak ibu-ibu yang pernah menyusui.” kataku.
“Pak Rudy ini cuman salah satu dari koleksinya, dia juga suka main ama orang bule dari Italy, terus dia juga ada main sama Pak XXX (orang penting).”
“Lina kok tau semuanya..?”
“Pak Rudy ini cuman salah satu dari koleksinya, dia juga suka main ama orang bule dari Italy, terus dia juga ada main sama Pak XXX (orang penting).”
“Lina kok tau semuanya..?”
“Soalnya gua sering jalan bareng dia, kalo dia dapat order sering dia bagi-bagi ama gua, orangnya paling baik juga sosial ama temen.” sambung Lina lagi.
Sementara Lina tidak tahu kalau aku dan Judith juga sudah lama kenal.
Tiba-tiba Judith menggerakkan badannya membuat bagian perutnya yang
tadinya terselimut kini terbuka, gerakannya itu membangunkan Rudy yang
melihat buah dadanya begitu menantang langsung mulutnya beraksi, dari
buah dada Judith turun terus ke bawah membuka lebar pahanya Judith dan
menjilati bibir vaginanya. Aku langsung bangun dan menghampiri ranjang
keduanya dan memperhatikan dari dekat Rudy menjilati bibir kemaluan
Judith dan menguakkannya. Nampak lubang kemaluan Judith yang memerah
terbuka cukup besar. Sementara bulu kemaluannya kelihatan seperti
dicukur bersih, licin seperti vagina seorang bayi.
Melihatku memperhatikannya dengan serius, Rudy lalu bertanya.
“Kamu suka Roll..? Kita tukaran aja sekarang, aku ama Lina.”
Lalu Rudy bangun dan pindah ke ranjang sebelah, dan aku segera menggantikan tempat Rudy tadi, tapi betapa terkoyaknya hatiku saat itu. Benar-benar tidak pernah kukira akan mengalami pertemuan kembali yang begini dengan Judith. Aku berbaring sambil mendekap tubuhnya pelan-pelan, seolah takut jangan sampai dia terbangun. Mulutku melahap buah dadanya, menghisap puting susunya yang besar dan panjang itu, tanganku pelan turun ke bawah mengusap selangkangannya, terus memegang vaginanya sambil mencium pipinya, mengulum bibir-bibirnya. Judith mendesah dan menguap sambil menggerakkan badannya, tapi tidak bangun. Aku pun terus melanjutkan aksiku.
“Kamu suka Roll..? Kita tukaran aja sekarang, aku ama Lina.”
Lalu Rudy bangun dan pindah ke ranjang sebelah, dan aku segera menggantikan tempat Rudy tadi, tapi betapa terkoyaknya hatiku saat itu. Benar-benar tidak pernah kukira akan mengalami pertemuan kembali yang begini dengan Judith. Aku berbaring sambil mendekap tubuhnya pelan-pelan, seolah takut jangan sampai dia terbangun. Mulutku melahap buah dadanya, menghisap puting susunya yang besar dan panjang itu, tanganku pelan turun ke bawah mengusap selangkangannya, terus memegang vaginanya sambil mencium pipinya, mengulum bibir-bibirnya. Judith mendesah dan menguap sambil menggerakkan badannya, tapi tidak bangun. Aku pun terus melanjutkan aksiku.
Ketika dia berbalik tertelungkup, segera kupegang pantatnya dan
menguakkannya. Nampaklah lubang duburnya yang sudah terbuka itu, merah
kehitam-hitaman, kira-kira berdiameter satu senti. Tapi betapa hatiku
begitu penuh kasih padanya, pelan-pelan lidahku menjulur ke lubang
pantatnya itu dan kujilati pelan-pelan. Tiba-tiba Judith menggerakkan
pantatnya, rupanya terasa olehnya sesuatu yang nikmat di pantatnya. Aku
terus saja menjilatinya, lalu dia merintih dan menarik napas panjang dan
mendesah.
“Aduuhh.. enak Rudy, terus Sayang.. lidahnya terus mainkan.., duuh..
enaakk..!” desahnya pelansambil semakin kuat menggoyangkan pantatnya,
sementara rudalku sudah tegang sekali.
“Rudy.., jellynya.. jellynya dulu.. baru masukin yaa..!”
Aku tidak tahu dimana jellynya, lalu kuludahi saja banyak-banyak sampai lubang duburnya itu penuh dengan ludahku dan kuarahkan rudalku ke arah sasarannya, dan mulai menyentak masuk pelan-pelan.
“Aaacchh..!” dia mendesah.
“Rudy.., jellynya.. jellynya dulu.. baru masukin yaa..!”
Aku tidak tahu dimana jellynya, lalu kuludahi saja banyak-banyak sampai lubang duburnya itu penuh dengan ludahku dan kuarahkan rudalku ke arah sasarannya, dan mulai menyentak masuk pelan-pelan.
“Aaacchh..!” dia mendesah.
Sekali hentak langsung masuk tanpa halangan, kudorong terus rudalku,
tangan kananku melingkari lehernya. Dia menarik napas panjang sambil
mendesah tertahan, sementara rudalku sudah semuanya masuk tertanam dalam
liang pelepasannya yang cengkeramannya sudah tidak terasa lagi. Tangan
kiriku memainkan klitorisnya, sambil mencium pipinya kemudian melumat
bibirnya. Berarti Judith ini sudah biasa disodomi orang, hanya lubangnya
belum terbuka terlalu besar. Aku mulai menarik keluar kembali dan
memasukkan lagi, dan mulai melakukan gerakan piston pelan-pelan pada
awalnya, sebab takut nanti Judithnya kesakitan kalau aku langsung main
hajar dengan kasar.
Aku tahu bila dalam keadaan normal seperti biasa, tidak akan pernah
aku dapat menyentuh tubuhnya ini. Selagi aku mengulum lidahnya itu,
Judith membuka matanya, terbangun dan kaget melihat siapa yang lagi
menyetubuhinya. Judith mau bergerak bereaksi tapi kudekap dia kuat-kuat
hingga Judith tidak mungkin dapat bergerak lagi, dan aku mulai
menghentak dengan kekuatan penuh pada lubang duburnya yang memang sudah
dol itu.
Batang rudalku masuk semua tertancap di dalam lubang duburnya dan
masuk keluar dengan bebasnya menghajar lubang dubur Judith dengan
tembakan-tembakan gencar beruntun sambil mendekapnya kuat-kuat dari
belakang meremas payudaranya dengan gemasnya dan mengigit tengkuknya
yang sudah basah oleh keringatnya itu. Secara reflex Judith mengoyang
pinggulnya begitu merasakan batang kemaluanku masuk, dan mendesah
mengerang dengan suara tertahan. Keringat deras bercucuran di pagi yang
dingin itu. Seperti kuda yang sedang balapan seru, dia merintih lirih
diantara desahan napasnya itu dan mengerang. Judith semakin menggoyang
pantatnya seperti kesetanan oleh nikmat yang abnormal itu.
Sepuluh menit berlalu, lubang duburnya Judith rasanya sangat licin
sekali, seperti main di vagina saja. Dan Judith meracau mendesah dan
menjerit histeris, wajahnya penuh keringat yang meleleh. Kubalikkan
tubuhnya, kini Judith sudah tidak melawan lagi, dia hanya tergeletak
diam pasrah ketika kualasi bantal di bawah pantatnya. Dia mengangkat
kedua kakinya yang direntangkan dan memasukkan lagi rudalku ke dalam
lubang duburnya yang sudah terkuak itu. Seluruh batang rudalku basah
oleh cairan kuning yang berbuih, itu kotorannya Judith yang separuhnya
keluar meleleh dari lubang duburnya itu. Bagi orang yang tidak biasa
dengan anal sex ini pasti akan merasa jijik.
Kini wajah kami berhadapan, kupegang kepalanya supaya dia tidak dapat
berpaling ke kiri ke kanan. Dan kulumat-lumat bibir-bibirnya, sepasang
gunung buahdadanya terguncang-guncang dengan hebatnya, lehernya dan
dadanya basah oleh keringatnya yang bercampur baur dengan keringatku.
Dan inilah yang namanya kenikmatan surga. Pipi-pipinya telah memerah
saga oleh kepanasan. Aku semakin keras lagi menggenjot ketika mengetahui
kalau Judith mau mencapai puncak klimaksnya. Seluruh tubuhnya lalu jadi
mengejang, dan suaranya tertahan di ujung hidungnya, Judith ini
benar-benar histeris pikirku. Mungkin juga dia ini sex maniac.
Judith mulai bergerak lagi dengan napas yang masih tersengal-sengal sambil mendesah.
“Terus ung.. teeeruus.. aku mau keluar lagi..!” desahnya.
Benar saja, Judith kembali menjerit histeris seperti kuntilanak, seluruh tubuhnya kembali mengejang sambil wajahnya menyeringai seperti orang menahan sakit yang luar biasa. Butiran keringatnya jatuh sebesar biji jagung membasahi wajahnya, peluh kami sudah bercampuran. Kupeluk erat-erat tubuhnya yang licin mengkilap oleh keringat itu sambil menggigit-gigit pelan daun telinganya agar dia tambah terangsang lagi.
“Terus ung.. teeeruus.. aku mau keluar lagi..!” desahnya.
Benar saja, Judith kembali menjerit histeris seperti kuntilanak, seluruh tubuhnya kembali mengejang sambil wajahnya menyeringai seperti orang menahan sakit yang luar biasa. Butiran keringatnya jatuh sebesar biji jagung membasahi wajahnya, peluh kami sudah bercampuran. Kupeluk erat-erat tubuhnya yang licin mengkilap oleh keringat itu sambil menggigit-gigit pelan daun telinganya agar dia tambah terangsang lagi.
Akhirnya dia jatuh lemas terkulai tidak berdaya seperti orang mati
saja. Tinggal aku yang masih terus berpacu sendiri menuju garis finish.
Kubalikkan lagi tubuh Judith tengkurap dan mengangkat pantatnya, tapi
tubuhnya jatuh kembali tertelungkup saja, entah apa dia sangat kehabisan
tenaga atau memang dia tidak mau main doggy style. Kuganjal lagi bantal
di bawah perutnya dan mulai menhajarnya lagi, menindihnya dari atas
punggungnya yang basah itu. Tapi keringatnya tetap berbau harum.
Napasnya memburu dengan cepatnya seperti seorang pelari.
“Aduh.. aduuh.. aku mau beol.. nich.. cepeet dikeluarin.. nggak tahan nich..! Ituku udah mo keluar nich..!” desahnya.
Dadanya bergerak turun naik dengan cepatnya. Tapi aku tidak perduli, soalnya lagi keenakan, kutanamkan kuat-kuat batang kemaluanku ke dalam lubang pantatnya, dan menyemprotkan spermaku begitu banyaknya ke dalam lubang analnya itu.
Dadanya bergerak turun naik dengan cepatnya. Tapi aku tidak perduli, soalnya lagi keenakan, kutanamkan kuat-kuat batang kemaluanku ke dalam lubang pantatnya, dan menyemprotkan spermaku begitu banyaknya ke dalam lubang analnya itu.
“Aduh.. aduuh.., aku mau beol.. nich.. cepeet nggak tahan nich.., udah mo keluar nich..!” desahnya.
“Aaacchhh.. aach..!” Judith menjerit lagi.
Ada dua menit baru kucabut batang kemaluanku. Dan apa yang terjadi,
benar saja kotorannya Judith ikut keluar bersama rudalku, dan menghambur
padaku. Terasa hangat kotorannya yang mencret itu. Hal itu juga
berhamburan pada seprei tempat tidur. Praktis kami berenang di atas
kotoran tinjanya yang keluarnya banyak sekali itu. Sementara aku lagi
menikmati orgasmeku, kudengar suaranya Judith seperti orang yang sedang
sekarat, dan napasnya mendengus. Anehnya aku sama sekali tidak merasa
jijik, walaupun aku dengan sudah belepotan oleh tinjanya.
Kami tetap saja berbaring diam sambil terus berpelukan. Napasnya
masih tersengal-sengal. Dadanya bergerak naik turun seperti orang yang
benar-benar kecapaian. Kucium pipinya yang basah oleh keringatnya, dan
menjilati keringat di lehernya yang putih mulus itu. Batinku terasa puas
sekali dapat mencicipi tubuh indah ini, walaupun dia ini hanya seorang
pelacur saja. Judith pun tetap berbaring diam tidak bergerak walaupun
semua bagian bawah tubuhnya sudah berlumuran oleh tinjanya. Dia
sepertinya sudah seperti pasrah saja atas semua yang sedang terjadi pada
dirinya. Bola matanya menatap kosong ke dinding kamar. Aku membalikkan
kepalanya agar menatapku, terus kuhisap bibirnya pelan dan mencium di
jidatnya. Tampak senyum di wajahnya, dia seperti senang dengan sikapku
ini. Dia menatapku dengan wajah sayu dan letih.
“I love you Judith..” ucapku tanpa sadar.
Dia hanya mendengus, menggerakan hidungnya yang mancung itu sambil bola matanya yang hitam bening itu menatapku tajam. Kucium lagi pipinya.
“Judith.., dari dulu aku tetap cinta kamu..” bisikku di telinganya.
“Walaupun harus hidup dengan berlumuran tinja seperti ini..?” jawabnya seperti menyindirku.
“Kita mesti keluar dari kubangan tinja ini Judith..,” kataku, “Kita bersihkan tubuh kita dan kita memulai hidup kita yang baru.”
Dia hanya mendengus, menggerakan hidungnya yang mancung itu sambil bola matanya yang hitam bening itu menatapku tajam. Kucium lagi pipinya.
“Judith.., dari dulu aku tetap cinta kamu..” bisikku di telinganya.
“Walaupun harus hidup dengan berlumuran tinja seperti ini..?” jawabnya seperti menyindirku.
“Kita mesti keluar dari kubangan tinja ini Judith..,” kataku, “Kita bersihkan tubuh kita dan kita memulai hidup kita yang baru.”
Dia tidak menjawab, malah mendorongku ke samping dan dia melompat bangun bergegas menuju kamar mandi diiringi suara ketawa dari Rudy dan Lani.
Sisa-sisa kotoran di bokong pantatnya itu mengalir turun di paha dan
betis kakinya dan ruangan itu telah dipenuhi oleh bau kotoran yang
keluar dari dalam perutnya Judith ini. Aku pun berlari ke kamar mandi
dan membantu Judith membersihkan badannya dengan air dan bantu dia
menyirami tubuhnya dan menyabuni seluruh tubuhnya sampai ke selangkang
dan kemaluannya terus sampai pada lubang pantatnya semua kusabuni dan
kubilas sampai benar-benar bersih. Barulah kemudian aku mandi. Judith
nampaknya senang dengan perlakuanku yang mengistimewakan dirinya itu,
dan dia pun membantuku mengelap badanku dengan handuk.
Kemudian kami kembali ke kamar, aku menarik keluar seprei yang telah
penuh dengan kotoran itu, membungkusnya dan melemparnya ke kamar mandi.
Judith duduk di kursi mengawasiku bekerja sambil senyum-senyum malu. Aku
menatap tubuhnya yang tinggi atletis ini dengan penuh rasa pesona dan
syukur. Namun sama sekali tidak kusanga bahwa nanti dalam waktu yang
tidak lama lagi dia akan menjadi isteriku. Dan sedikitpun aku tidak
menyesal memperisteri Judith, sekalipun dia itu hanyalah seorang bekas
wanita nakal, bekas ayam kampus.
Kami kembali lagi ke atas tempat tidur dan berusaha untuk tidur,
padahal hari sudah pagi. Kami tidur berpelukan. Dia menyembunyikan
kepalanya di dalam dadaku yang sedang bergemuruh dengan hebatnya itu,
dan kami terlelap dalam tidur. Aku hanya dapat tertidur beberapa saat
saja, kemudian sudah terbangun lagi, di sampingku Judith masih tertidur
lelap, mungkin sebab saking capeknya dia ini. Pelan aku bangun untuk
duduk sambil memperhatikan dia dalam ketidurannya, di bibirnya
tersungging senyum, sepertinya dia merasa bahagia dalam hidup ini.
Rambutnya yang lebat hitam panjang itu tergerai di atas bantal.
Pelan kusingkap kakinya hingga terbuka lebar, dan tanganku mengusap
pahanya yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu. Benar-benar merangsangku
paha mulus yang bersih ini. Menguakkan bibir vaginanya yang telah ke
biru-biruan itu pertanda bahwa dia telah banyak sekali melakukan
persetubuhan. Dan kulihat lubang vaginanya yang telah terbuka menganga
seperti lubang terowongan turun ke dalam rahimnya. Lalu kujulurkan
lidahku untuk membuka vaginanya itu dengan penuh perasaan. Kujilati juga
klitorisnya, membuatnya jadi tergerak mungkin oleh rasa enak di
klitorisnya itu. Tapi hanya sampai disitu saja. Aku tidak tega untuk
membangunkannya dari kelelapan tidurnya yang manis itu.
Siangnya kami checked out dari Hotmen itu. Dalam mobil aku dan Judith
duduk di belakang. Dia tidak pernah berbicara sampai kami tiba di depan
rumahnya Lina di Tebet timur, keduanya turun di sini, padahal Judith
rumahnya di jalan Kalibata utara.
Setelah berlalu dari situ, aku bertanya kepada Rudy kenapa tidak
membayar keduanya. Rudy bilang biasanya uangnya itu di transfer ke
rekening keduanya masing-masing. Dan esoknya hari Senin aku mentransfer
uang ke rekening Judith sebesar lima ratus ribu rupiah. Kenangan manis
yang tidak terlupakan bagiku.
TAMAT



Tidak ada komentar:
Posting Komentar